Goresan Di Sehelai Daun Halaman 39

Bayangkan seorang pertapa di lereng Gunung Wilis pada abad ke-14. Ia memotong sehelai daun lontar, menghaluskannya dengan batu apung, lalu menulis dengan tinta dari jelaga: “Di sinilah aku paham bahwa cinta sejati tak perlu dibalas.” Goresan itu tidak pernah dibaca oleh banyak orang. Daun itu hanya tersimpan di celah-celah batu. Namun, goresan itu . Keberadaannya sudah cukup untuk membuktikan bahwa pada suatu masa, seseorang telah hidup, berpikir, dan merasa.

Karena suatu hari nanti, Kita akan kehilangan semuanya itu, Dan yang tersisa hanyalah kenangan." goresan di sehelai daun halaman 39

: Penulis Kkabeh sering dijuluki sebagai "murid Khu Lung" (Gu Long) karena gaya penulisannya yang puitis, penuh teka-teki, dan memiliki alur cerita yang sulit ditebak. Bayangkan seorang pertapa di lereng Gunung Wilis pada