Apakah Anda mencari (seperti Ramadhan atau takwa)?
" Tuan Guru Haji Awang selalu cakap: 'Jangan kau tengok besar atau kecilnya amal. Tapi tengok pada hati. Di Patani ni, hati kita pernah dibakar, pernah direndam air banjir. Tapi masih hidup. Sebab Allah jaga. '" khutbah jumat jawi patani
Bahasa yang digunakan adalah dialek Patani yang memiliki bunyi vokal yang berbeda. Misalnya, penggunaan kata "Kito" (Kita), "Mano" (Mana), atau intonasi yang melengking khas Melayu Selatan. Penggunaan dialek ini membuat jamaah merasa lebih dekat dan "meresap" ke dalam hati, berbeda dengan penggunaan bahasa standar yang terasa kaku. Apakah Anda mencari (seperti Ramadhan atau takwa)
“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wassolatu wassalamu ‘ala asyrofil anbiya’i wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in. Amma ba’du. Fayya ayyuhannas, ittaqullaha haqqa tuqatihi, wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. Ayuhae awrang-awrang Patani, ingatlah nikmat Allah yang telah memberek angkau sekalian dengon iman dan Islam, dengon bahasa Melayu dan aksara Jawi, dengon ulama-ulama yang berilmu amalan..." Di Patani ni, hati kita pernah dibakar, pernah
Secara fiqih, khutbah Jumat sah jika disampaikan dalam bahasa yang dipahami jemaat. Namun di Patani, penggunaan Jawi dalam khutbah mengandung dimensi ekstra:
" Kita ni, duduk di Patani. Bumi ni bukan bumi asing. Bumi ni bumi perjuangan. Bukan perjuangan dengan pedang saja, tapi perjuangan dengan sabar. Setitik getah yang kau tuai, Pak Mat, itu satu doa. Sekerat ikan yang kau jala, Wak Ngah, itu satu pahala. Kita hidup bukan untuk lawan manusia. Kita hidup untuk lawan nafsu sendiri. "